Mataku masih basah didepan pusara
Bapak. Seringkali aku mampir untuk berziarah ke makam Bapak untuk sekadar
mengaji, membersihkan makamnya terkadang sesekali aku bercerita tentang
kehidupanku saat ini. Ya, dulu Bapak sering memangkuku untuk mendengarkan
cerita tentang hari-hariku di sekolah. Seringkali aku merindukannya. Terutama
saat beban hidup dipundakku makin berat rasanya.
Hari ini aku berkunjung ke makam
Bapak seperti biasa, hanya untuk mendoakan Bapak dihadapannya dan melepas
rindu. Sebenarnya, ada banyak hal yang ingin ku ceritakan pada Bapak. Tapi,
entahlah. Rasanya aku tak ingin mengorek kesedihanku ini. Hanya saja aku sedang
ingin berada disamping Bapak.
***
Hari-hariku, aku habiskan untuk
bekerja. Aku menjabat sebagai Manager di sebuah bank swasta. Sebagai perempuan
–perawan tua—sepertiku, tentu tak lepas dengan image galak dan tegas seperti yang berkembang di kampungku dulu.
Aku berumur 40 tahun dan masih lajang. Aku belum menikah bukan karena aku tak
laku. Jimmy, teman SMPku dia adalah pengusaha property yang sangat sukses
sekarang. Dia mengejar cintaku sejak reuni saat kami kuliah dulu. Tapi selalu
ku tolak, ah dia bukan seleraku. Fahrin, sahabatku saat kecil dulu. Tiba-tiba
dia menyatakan cinta saat kami wisuda. Aku sudah terlalu mengenalnya seperti
mengenal diriku sendiri. Rasanya, tak etis saja jika aku menjalin cinta
dengannya. Rasa sayangku padanya, berkembang sepeti sayangku pada saudaraku
sendiri. Akhirnya Fahrin pindah ke Surabaya, katanya terlalu sakit untuk
menetap disini. Yaa,, dia memang sangat kekanakan. Masih ada Tomi, Angga, Egar,
Hamid, Yoga, ah masih banyak lagi, aku sampai tak ingat nama-namanya. Intinya
wajahku menurutku dan menurut ibuku, manis, cantik, bermata sipit dan bertubuh
tinggi juga pekerjaan yang mapan, cukuplah untuk mendapatkan lelaki yang
seharusnya diimpikan. Tapi sampai saat ini, belum ada yang dapat meluluhkan
hatiku selain, Mas Fahri.
Kembali pada pekerjaanku. Aku sering
mendengar karyawanku membicarakanku. Bergosip tentang kehidupan pribadiku.
Seperti bola api yang cepat bergulir. Entah dari mana mereka mendpatkan issu seperti itu. Ada gosip yang beredar
bahwa aku pernah menikah, memiliki anak dan bercerai. Lalu anakku dibawa oleh
mantan suamiku. Ada lagi, bahwa aku ditinggal menikah oleh kekasihku dulu. Ada
juga yang mengatakan bahwa aku terlalu sempurna untuk mendapatkan laki-laki. Lalu
sampa pernah ada yang mengatakan bahwa aku perempuan tak normal. Hahaha.. aku
hanya tersenyum mendengar gossip-gossip itu. Aku tak mau memberikan klarifikasi
pada karyawan-karyawanku, biarlah mereka berspekulasi tentang hidupku. Toh tak
ada urusannya denganku. Biarlah mereka berolahraga mulut. Aku hanya ingin
bekerja dan bekerja.
***
Sore
ini aku pulang terlambat karena harus menyelesaikan beberapa pekerjaan yang
molor. Seperti biasa, macet jalanan kota metropolitan saat jam pulang kFahrir
dan kepala pusing rasanya sudah ingin merebahkan diri di tempat tidur.
Perjalanan pulang kali ini terasa begitu jauh. Mungkin karena beban kerja hari
ini lebih berat dari biasanya. Aku membelokkan mobilku ke sebuah kedai kopi.
Setidaknya aku ingin melepaskan penat hari ini pada secangkir kopi sebelum
pulang nanti.
“Arabica
satu.” Kataku pada pelayan yang hendak mencatat pesananku.
“Ada
lagi?”
“Sudah.”
Kataku dengan senyum pahit.
“Baik,
ditunggu sebentar, Bu.”
Sebuah
kata ‘Bu’.. ah rasanya aku belum pantas di sebut dengan kata itu. Selalu ingin
menangis rasanya. Aku belum menikah dan seringkali dipanggil “Ibu”. Aku tahu
umurku sudah tak muda lagi. Tapi, selalu saja ada rasa tersayat di lubuk
hatiku.
Seorang
pelayan yang lain datang danmenyuguhkan pesananku diatas meja. Ah memang rasa
sepi itu seringkali hadir seperti saat ini. Melihat teman-temanku sudah
menimang bayi, bahkan beberapa ada yang anaknya sudah besar. Ah, iri rasanya..
Didepan
mejaku, sepasang remaja tengah asik bersenda gurau tanpa malu dan tanpa empati
pada wanita tua sepertiku. Sejenak ku palingkan wajahku ke jendela yang sedikit
basah terkena tetesan air hujan.
Beberapa
orang mulai berlari melindungi diri dari air hujan. Aku ingat, dulu aku senang
sekali menunggu hujan. Saat aku belia dulu, aku senang sekali berjalan diantara
rintik hujan. Ada kebebasan yang bersemayam disana. Seolah semua laraku melebur
bersama rintiknya menghujam tubuhku. Lalu diantara air itu, terselip kenangan
yang takkan aku lupakan.
***
Akan
ku ceritakan, pertemuanku dengan Mas Fahri. Aku adalah orang yang tertutup,
jarang berbicara dan tak mudah percaya dengan orang baru. Satu-satunya orang
yang boleh mendengar cerita dan keluh kesahku adalah Bapak. Sampai suatu hari,
Bapak meninggal karena sakit gagal ginjal. Sontak aku kehilangan duniaku. Aku
kehilangan tempat bersandar. Aku benar-benar marah pada Tuhan,
Aku
sering menghabiskan waktu di taman depan komplekku. Beberapa kali sampai aku
tak sadar, badanku sudah basah kuyup oleh air hujan. Lalu pulang dan masuk
rumah lewat pintu belakang agar tidak ketahuan ibu aku pulang dengan keadaan
basah kuyup. Sejujurnya, aku tak ingin membuat ibu khawatir. Aku tak pernah
menangisi kepergian Bapak dirumah. Maka aku pergi ke taman agar Ibu tak tahu
aku menangis.
Suatu
hari, aku sedang berada di taman. Seseorang mendekatiku dan menyapaku. Semula
aku takut dengan Mas Fahri. Badannya yang tinggi tegak membuatku takut.
“Hampir
setiap hari aku melihatmu disini. Tampaknya kamu sedang sedih.” Katanya
tiba-tiba waktu itu.
Aku
menoleh padanya dan langsung beranjak pergi, aku takut.
Beberapa
kali Mas Fahri mencoba mengajakku bicara. Namun aku selalu pergi dan tak ingin
pergi ke taman lagi. Sampai suatu hari, aku sedang berjalan pulang dari kampus.
Dari kejauhan melihat Mas Fahri membantu seorang anak yang terjatuh dari
sepeda. Melihatnya begitu tulus pada anak kecil itu, aku mulai berfikir bahwa
dia bukanlah orang jahat.
Lalu
aku memberanikan diri pergi ke taman lagi. Benar saja, Mas Fahri datang
menghampiriku.
“Jika
kamu membutuhkan seseorang untuk mendengarmu bercerita, aku siap menampungnya.”
katanya tiba-tiba tanpa basa-basi. Aku hanya menunduk.
“Namaku
Fahri. Rumahku disana, tepat didepan taman ini. Sudah sebulan ini aku sering
melihatmu disini. Aku rasa, kamu sedang memiliki masalah besar.”
“Namaku
Aini.” Kataku lalu kembali menunduk.
Mas
Fahri lalu memulai percakapan, sebenarnya itu bukan percakapan. Melainkan
cerita, karena aku tak menjawab sedikitpun semua perkataannya. Aku hanya
menunduk, sesekali tersenyum mendengar kisah lucunya.
Entah
kenapa sejak perkenalan itu, rasanya aku merasa memikirikan terus Mas Fahri.
Aku merasa jadi ingin tahu tentang dirinya, tentang kehidupannya, tentang asal-usulnya,
tentang makanan kesukaannya dan semuanya.
Lalu
aku kembali ke taman dan bertemu lagi dengan Mas Fahri. Lagi, lagi dan lagi.
Aku bertemu dengannya setiap hari, tanpa janji. Karena memang aku selalu pergi
ke taman jam 4 dan Mas Fahri selalu menghampiriku.
Tanpa
terasa sudah tiga bulan aku mengenal Mas Fahri. Cukup banyak aku mengetahui
tentangnya dari semua ceritanya. Untuk pertama kalinya aku merasa,,, jatuh
cinta. Lalu kisah ini terendus oleh ibuku. Ibu tak setuju dengan hubunganku
dengan Mas Fahri dan melarang aku untuk menemuinya lagi.
Sejak
saat itu, aku tak pernah pergi ke taman lagi. Aku takut oleh ibu. Aku hanya
bisa menangis dan menangis. Setiap pulang kuliah, aku tak pernah lewat taman
lagi, aku memutar jalan melalui jalan belakang komplek. Aku tak berani melawan
ibuku, aku takut ibuku tahu jika aku diam-diam menemui Mas Fahri. Aku janji,
akan berbicara pada ibuku jika waktunya sudah tepat. Aku akan meminta restu
ibu. Sebulan setelah aku tak pernah menemu Mas Fahri, saat pulang kuliah ibu mengatakan
bahwa Mas Fahri datang kemari untuk pamit padaku kalau dia akan pindah ke
Sulawesi.
“Baguslah,
setidaknya kamu bisa melupakan dia untuk selamanya” kata ibu.
Aku
merasa benar-benar tak adil. Dua orang yang aku cintai, Bapak dan Mas Fahri tak
bisa tinggal disisiku. Aku pergi ke rumah Mas Fahri, aku berlari dengan kencang
sambil menahan air mata yang jatuh.
Di depan rumah Mas Fahri, kulihat tampak sepi.
Dengan ragu, aku memencet bel beberapa kali.
“Temannya
Mutia ya?” tanya seseorang padaku, aku menoleh. “Tadi keluarga ini sudah pergi
ke Sulawesi. Rumahnya juga sudah dijual”
Sontak
kakiku bergetar dan aku tak pernah bertemu dengan Mas Fahri sampai detik ini
***
Aku
tersadar dari lamunanku. Melihat jam sudah pukul tujuh dan aku belum meyentuh
kopiku. Anak muda yang tadi sibuk bersenda guraupun sudah beganti dengan sebuah
keluarga yang tak kalah sibuk tertawa. Seorang bapak yang sudah cukup sepuh
sekitar 60 tahun bersama anak dan cucunya tampak begitu bahagia. Melihat itu
semua aku merasa jijik. Aku mengambil dompetku dari dalam tas. Braakk.. anak
kecil menabrak tanganku dan menjatuhkan dompetku.
“Farel,
kamu jangan lari-lari! Ayo minta maaf sama tante!” kata seseorang yang mungkin
adalah ibunya.
“Maafin
Farel tante, Farel gak sengaja.” Katanya sambil tertunduk dan mengambilkan
dompetku dan memberikannya padaku.
“Iya,
gak apa-apa sayang.” Kataku sambil tersenyum sambil mengelus kepalanya, lalu
membuka dompet untuk mengambil uang agar aku bisa segara pergi dari sini.
“Fotonya
kaya yang ada di rumah. Mirip Foto kakek waktu muda,.” Kata anak itu sambil
menunjuk ke foto yang ada di dompetku.
Aku
kaget dan seluruh keluarganya menoleh. Aku segera bergegas pergi sebelum Mas
Fahri benar-benar menyadarinya. Aku berlari dengan kencang dan menahan air mata,
persis seperti ketika Mas Fahri pergi dulu.
Benar,
dari garis mukanya aku sangat mengenalnya, kakek yang berumur sekitar enam
puluh tahun itu adalah Mas Fahri dan Anak kecil tadi tadi adalah anak Mutia,
anak Mas Fahri yang seumuran denganku. Benar, dia adalah laki-laki yang ditolak
oleh ibuku karena umurnya seumur dengan ibuku. Benar, aku mencintainya karena
dia seperti Bapakku. Ya, benar, dia adalah Mas Fahri, cinta pertamaku dua puluh
tahun lalu.
Manisi, 17 Agustus 2015
Windy Nurul Wahidah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar