Selasa, 18 Agustus 2015

LELAKI SEPERTI BAPAK




            Mataku masih basah didepan pusara Bapak. Seringkali aku mampir untuk berziarah ke makam Bapak untuk sekadar mengaji, membersihkan makamnya terkadang sesekali aku bercerita tentang kehidupanku saat ini. Ya, dulu Bapak sering memangkuku untuk mendengarkan cerita tentang hari-hariku di sekolah. Seringkali aku merindukannya. Terutama saat beban hidup dipundakku makin berat rasanya.
            Hari ini aku berkunjung ke makam Bapak seperti biasa, hanya untuk mendoakan Bapak dihadapannya dan melepas rindu. Sebenarnya, ada banyak hal yang ingin ku ceritakan pada Bapak. Tapi, entahlah. Rasanya aku tak ingin mengorek kesedihanku ini. Hanya saja aku sedang ingin berada disamping Bapak.
            ***
            Hari-hariku, aku habiskan untuk bekerja. Aku menjabat sebagai Manager di sebuah bank swasta. Sebagai perempuan –perawan tua—sepertiku, tentu tak lepas dengan image galak dan tegas seperti yang berkembang di kampungku dulu. Aku berumur 40 tahun dan masih lajang. Aku belum menikah bukan karena aku tak laku. Jimmy, teman SMPku dia adalah pengusaha property yang sangat sukses sekarang. Dia mengejar cintaku sejak reuni saat kami kuliah dulu. Tapi selalu ku tolak, ah dia bukan seleraku. Fahrin, sahabatku saat kecil dulu. Tiba-tiba dia menyatakan cinta saat kami wisuda. Aku sudah terlalu mengenalnya seperti mengenal diriku sendiri. Rasanya, tak etis saja jika aku menjalin cinta dengannya. Rasa sayangku padanya, berkembang sepeti sayangku pada saudaraku sendiri. Akhirnya Fahrin pindah ke Surabaya, katanya terlalu sakit untuk menetap disini. Yaa,, dia memang sangat kekanakan. Masih ada Tomi, Angga, Egar, Hamid, Yoga, ah masih banyak lagi, aku sampai tak ingat nama-namanya. Intinya wajahku menurutku dan menurut ibuku, manis, cantik, bermata sipit dan bertubuh tinggi juga pekerjaan yang mapan, cukuplah untuk mendapatkan lelaki yang seharusnya diimpikan. Tapi sampai saat ini, belum ada yang dapat meluluhkan hatiku selain, Mas Fahri.
            Kembali pada pekerjaanku. Aku sering mendengar karyawanku membicarakanku. Bergosip tentang kehidupan pribadiku. Seperti bola api yang cepat bergulir. Entah dari mana mereka mendpatkan issu seperti itu. Ada gosip yang beredar bahwa aku pernah menikah, memiliki anak dan bercerai. Lalu anakku dibawa oleh mantan suamiku. Ada lagi, bahwa aku ditinggal menikah oleh kekasihku dulu. Ada juga yang mengatakan bahwa aku terlalu sempurna untuk mendapatkan laki-laki. Lalu sampa pernah ada yang mengatakan bahwa aku perempuan tak normal. Hahaha.. aku hanya tersenyum mendengar gossip-gossip itu. Aku tak mau memberikan klarifikasi pada karyawan-karyawanku, biarlah mereka berspekulasi tentang hidupku. Toh tak ada urusannya denganku. Biarlah mereka berolahraga mulut. Aku hanya ingin bekerja dan bekerja.
***
Sore ini aku pulang terlambat karena harus menyelesaikan beberapa pekerjaan yang molor. Seperti biasa, macet jalanan kota metropolitan saat jam pulang kFahrir dan kepala pusing rasanya sudah ingin merebahkan diri di tempat tidur. Perjalanan pulang kali ini terasa begitu jauh. Mungkin karena beban kerja hari ini lebih berat dari biasanya. Aku membelokkan mobilku ke sebuah kedai kopi. Setidaknya aku ingin melepaskan penat hari ini pada secangkir kopi sebelum pulang nanti.
“Arabica satu.” Kataku pada pelayan yang hendak mencatat pesananku.
“Ada lagi?”
“Sudah.” Kataku dengan senyum pahit.
“Baik, ditunggu sebentar, Bu.”
Sebuah kata ‘Bu’.. ah rasanya aku belum pantas di sebut dengan kata itu. Selalu ingin menangis rasanya. Aku belum menikah dan seringkali dipanggil “Ibu”. Aku tahu umurku sudah tak muda lagi. Tapi, selalu saja ada rasa tersayat di lubuk hatiku.
Seorang pelayan yang lain datang danmenyuguhkan pesananku diatas meja. Ah memang rasa sepi itu seringkali hadir seperti saat ini. Melihat teman-temanku sudah menimang bayi, bahkan beberapa ada yang anaknya sudah besar. Ah, iri rasanya..
Didepan mejaku, sepasang remaja tengah asik bersenda gurau tanpa malu dan tanpa empati pada wanita tua sepertiku. Sejenak ku palingkan wajahku ke jendela yang sedikit basah terkena tetesan air hujan.
Beberapa orang mulai berlari melindungi diri dari air hujan. Aku ingat, dulu aku senang sekali menunggu hujan. Saat aku belia dulu, aku senang sekali berjalan diantara rintik hujan. Ada kebebasan yang bersemayam disana. Seolah semua laraku melebur bersama rintiknya menghujam tubuhku. Lalu diantara air itu, terselip kenangan yang takkan aku lupakan.
***
Akan ku ceritakan, pertemuanku dengan Mas Fahri. Aku adalah orang yang tertutup, jarang berbicara dan tak mudah percaya dengan orang baru. Satu-satunya orang yang boleh mendengar cerita dan keluh kesahku adalah Bapak. Sampai suatu hari, Bapak meninggal karena sakit gagal ginjal. Sontak aku kehilangan duniaku. Aku kehilangan tempat bersandar. Aku benar-benar marah pada Tuhan,
Aku sering menghabiskan waktu di taman depan komplekku. Beberapa kali sampai aku tak sadar, badanku sudah basah kuyup oleh air hujan. Lalu pulang dan masuk rumah lewat pintu belakang agar tidak ketahuan ibu aku pulang dengan keadaan basah kuyup. Sejujurnya, aku tak ingin membuat ibu khawatir. Aku tak pernah menangisi kepergian Bapak dirumah. Maka aku pergi ke taman agar Ibu tak tahu aku menangis.
Suatu hari, aku sedang berada di taman. Seseorang mendekatiku dan menyapaku. Semula aku takut dengan Mas Fahri. Badannya yang tinggi tegak membuatku takut.
“Hampir setiap hari aku melihatmu disini. Tampaknya kamu sedang sedih.” Katanya tiba-tiba waktu itu.
Aku menoleh padanya dan langsung beranjak pergi, aku takut.
Beberapa kali Mas Fahri mencoba mengajakku bicara. Namun aku selalu pergi dan tak ingin pergi ke taman lagi. Sampai suatu hari, aku sedang berjalan pulang dari kampus. Dari kejauhan melihat Mas Fahri membantu seorang anak yang terjatuh dari sepeda. Melihatnya begitu tulus pada anak kecil itu, aku mulai berfikir bahwa dia bukanlah orang jahat.
Lalu aku memberanikan diri pergi ke taman lagi. Benar saja, Mas Fahri datang menghampiriku.
“Jika kamu membutuhkan seseorang untuk mendengarmu bercerita, aku siap menampungnya.” katanya tiba-tiba tanpa basa-basi. Aku hanya menunduk.
“Namaku Fahri. Rumahku disana, tepat didepan taman ini. Sudah sebulan ini aku sering melihatmu disini. Aku rasa, kamu sedang memiliki masalah besar.”
“Namaku Aini.” Kataku lalu kembali menunduk.
Mas Fahri lalu memulai percakapan, sebenarnya itu bukan percakapan. Melainkan cerita, karena aku tak menjawab sedikitpun semua perkataannya. Aku hanya menunduk, sesekali tersenyum mendengar kisah lucunya.
Entah kenapa sejak perkenalan itu, rasanya aku merasa memikirikan terus Mas Fahri. Aku merasa jadi ingin tahu tentang dirinya, tentang kehidupannya, tentang asal-usulnya, tentang makanan kesukaannya dan semuanya.
Lalu aku kembali ke taman dan bertemu lagi dengan Mas Fahri. Lagi, lagi dan lagi. Aku bertemu dengannya setiap hari, tanpa janji. Karena memang aku selalu pergi ke taman jam 4 dan Mas Fahri selalu menghampiriku.
Tanpa terasa sudah tiga bulan aku mengenal Mas Fahri. Cukup banyak aku mengetahui tentangnya dari semua ceritanya. Untuk pertama kalinya aku merasa,,, jatuh cinta. Lalu kisah ini terendus oleh ibuku. Ibu tak setuju dengan hubunganku dengan Mas Fahri dan melarang aku untuk menemuinya lagi.
Sejak saat itu, aku tak pernah pergi ke taman lagi. Aku takut oleh ibu. Aku hanya bisa menangis dan menangis. Setiap pulang kuliah, aku tak pernah lewat taman lagi, aku memutar jalan melalui jalan belakang komplek. Aku tak berani melawan ibuku, aku takut ibuku tahu jika aku diam-diam menemui Mas Fahri. Aku janji, akan berbicara pada ibuku jika waktunya sudah tepat. Aku akan meminta restu ibu. Sebulan setelah aku tak pernah menemu Mas Fahri, saat pulang kuliah ibu mengatakan bahwa Mas Fahri datang kemari untuk pamit padaku kalau dia akan pindah ke Sulawesi.
“Baguslah, setidaknya kamu bisa melupakan dia untuk selamanya” kata ibu.
Aku merasa benar-benar tak adil. Dua orang yang aku cintai, Bapak dan Mas Fahri tak bisa tinggal disisiku. Aku pergi ke rumah Mas Fahri, aku berlari dengan kencang sambil menahan air mata yang jatuh.
 Di depan rumah Mas Fahri, kulihat tampak sepi. Dengan ragu, aku memencet bel beberapa kali.
“Temannya Mutia ya?” tanya seseorang padaku, aku menoleh. “Tadi keluarga ini sudah pergi ke Sulawesi. Rumahnya juga sudah dijual”
Sontak kakiku bergetar dan aku tak pernah bertemu dengan Mas Fahri sampai detik ini
***
Aku tersadar dari lamunanku. Melihat jam sudah pukul tujuh dan aku belum meyentuh kopiku. Anak muda yang tadi sibuk bersenda guraupun sudah beganti dengan sebuah keluarga yang tak kalah sibuk tertawa. Seorang bapak yang sudah cukup sepuh sekitar 60 tahun bersama anak dan cucunya tampak begitu bahagia. Melihat itu semua aku merasa jijik. Aku mengambil dompetku dari dalam tas. Braakk.. anak kecil menabrak tanganku dan menjatuhkan dompetku.
“Farel, kamu jangan lari-lari! Ayo minta maaf sama tante!” kata seseorang yang mungkin adalah ibunya.
“Maafin Farel tante, Farel gak sengaja.” Katanya sambil tertunduk dan mengambilkan dompetku dan memberikannya padaku.
“Iya, gak apa-apa sayang.” Kataku sambil tersenyum sambil mengelus kepalanya, lalu membuka dompet untuk mengambil uang agar aku bisa segara pergi dari sini.
“Fotonya kaya yang ada di rumah. Mirip Foto kakek waktu muda,.” Kata anak itu sambil menunjuk ke foto yang ada di dompetku.
Aku kaget dan seluruh keluarganya menoleh. Aku segera bergegas pergi sebelum Mas Fahri benar-benar menyadarinya. Aku berlari dengan kencang dan menahan air mata, persis seperti ketika Mas Fahri pergi dulu.
Benar, dari garis mukanya aku sangat mengenalnya, kakek yang berumur sekitar enam puluh tahun itu adalah Mas Fahri dan Anak kecil tadi tadi adalah anak Mutia, anak Mas Fahri yang seumuran denganku. Benar, dia adalah laki-laki yang ditolak oleh ibuku karena umurnya seumur dengan ibuku. Benar, aku mencintainya karena dia seperti Bapakku. Ya, benar, dia adalah Mas Fahri, cinta pertamaku dua puluh tahun lalu.


Manisi, 17 Agustus 2015
Windy Nurul Wahidah

Kamis, 05 Februari 2015

perjalanan sekolah

sudah sejak lama, sejak gue Lulus SD gue udah memutuskan untuk tidak akan pernah mengikuti alumni dalam kegiatan apapun. Gue SD di salah satu SD favorit di Kota Bandung, melanjutkan ke SMP negeri favorit juga lalu ke SMA yang biasa banget. 
kalau ngobrolin masalah sekolah.. hmmm dari zaman TK nih ya. dulu gue paling lancar baca, nulis dan berhitung dibanding temen-temen, tapi gue punya percaya diri yang rendah. kalau lagi mau main trus rebutan mainan, gue yang paling diem dan gak mau ikut-ikutan temen-temen, hal itu berlanjut ketika gue SD. selama gue SD, gak pernah tuh dapet rangking keluar dari 10 besar. pasti aja ada di lingkarang 10 besar. cuma ya masalahnya itu, gue selalu jadi minoritas. gak berani ngomong banyak, ketika gue dijahatin, cuma bisa lari ke toilet dan nangis ngunci diri. buat jajan aja, degdegannya setengah mampus. SD gue kan dulu tuh nempel sama diknas, nah kalo istirahat gue pasti diem di perpus punya diknas. sampe gue hafal tuh buku-bukunya gara-gara keseringan gue datengin. bukan karena gue kere dan gak sanggup buat jajan ya, cuma kalo lagi istirahan tuh semua kantin penuh. gue gak berani bejubel sama anak-anak lain. sedih banget ya relasai intrapersonal gue dan gue baru nyadari itu sekarang. hehe
lanjut ketika SMP, gue pindah sekolah sampe 3x nih. disini kehidupan gue berubah total. gue yang asalnya pendiem dan pemali, berubah menjadi ABG alay yang labil banget. waktu dulu masih beken lah istilah gencet-gencetan (kalo istilah zaman sekarang itu nge-bully), biasanya senior kan yang ngegencet junior. pas lagi rame-ramenya, gue bete banget ketika liat temen-temen gue dikit-dikit di gencet. ya akhirnya gue gencet tuh para kakak-kakak kelas gue yang kecentilan. inget banget tuh, musuh bebuyutan gue ada di kelas 2i dan 3f. akhirnya sering banget kita perang mulut dan terendus guru. alhasil, bokap gue datenglah ke sekolah. waktu itu bokap gue dateng pas mau pergi kerja, waktu itu bokap gue jadi anggota DPRD prov Jabar. begitu masuk ke ruang kepala sekolah, kepala sekolah langsung ngeuh sama jas & badge yang dipake bokap gue. alih-alih dimarahin, bokap gue malah dijamu -__________- . ternyata saat itu kepsek ada modus, beliau ngobrol ngalor ngidul akhirnya minta tolong sama bokap gue buat masukin proposal ke gubernur, aih aih aiihhh
nilai rapor gue hancur dan nyokap memutuskan memindahkan gue ke pesantren. di pesantren gue merana.. gue kan jijian nih, makanan yang dipegang orang aja gue gak mau makan, nah di pesantren kan berbaur gitu, alhasil gue mogok makan dan gak bisa BAB selama seminggu. komplikasi lah gue, merengekrengek sama bokap gue. bokap gue gak tega liat anaknya yang manis ini merana, dijemputlah gue buat pulang ke Bandung (sekarang gue nyesel gak pernah pesantren, kerasa bodohnya gue tanpa ilmu agama :"( )
gue dimasukin lagi kesekolah lama gue. setelah itu, gue makin liar gencet-gencetan sama kakak kelas, akhirnya kami dipanggil satu satu ke ruang BK yang menghasilkan persahabatan antara gue dan guru BK (yang saat itu dipegang PPL UPI) hehe.
nilai rapor makin hancur dan gue dipindah ke SMP yg favorit. sebenernya dari dulu, NEM gue masuk ke sekolah itu, tapi bokap gue gak ngizinin katanya itu sekolah yang suka tawuran dan well gue masuk juga ke sekolah ini.
di SMP ini, gue jadi super baik. gak pernah nyari masalah. pokoknya baik deh. gue ketemu cinta pertama gue disini nih, waktu kelas 9 hehe. nanti gue ceritain deh ya.
menjelang UN, gue sakit TBC sampe batuk darah dan gue harus dirawat. mungkin karena kecapean di jalan ya. jarak antara rumah dan sekolah membutuhkan waktu 2 jam. jadi gue harus berangkat jam 5 pagi, lalu pulang sekolah harus les di daerah dago sampe magrib dan sampe rumah jam 8. alhasil, UN gue mengecewakan. gue gak bisa masuk sekolah impian :'(
jadilah gue sekolah dideket rumah. sediiihhhh bgt rasanya. ada tuh 6 bulan gue sering meratap dan menangisi nasib (lebay ye. hehe). cuma lama-lama, ngerasa betah, apalagi waktu kelas 11 dan 12. gak nyesel deh sekolah disini. penuh cerita indah. hihihi
gue ngelanjutin kuliah di Fakultas Psikologi salah satu universitas negeri di Bandung. alhamdulillah :)